Thursday, June 1, 2017

cerita renungan

MAAV AYAh


Seorang anak perempuan berusia sekitar 8 tahun yang biasa menunggu ayahnya pulang dari kantor,
Sedang memandangi kalender dengan salah satu tanggal berwarna merah, itu tepat hari ini, ya, hari yang seharusnya libur, ayahnya masih harus bekerja, dia di asuh oleh pengasuh, yang setiap sore hari, pengasuh itu pulang dan akan kembali esok harinya.

Pada  hari ini, seharusnya dia dan ayah-nya pergi bermain di taman, dan tak lupa membeli beberapa makanan dan camilan untuk makan malam. Namun, apa daya ketika tuntutan profesi yang harus di jalani ayahnya. Meskipun diam, namun anak itu kesal dan marah sebenarnya. Masalah kemana sang ibu, mereka sudah berpisah. Dan anak itu tidak tahu apa yang sebenarnya.

Sembari menunggu sang ayah pulang, dia menonton televisi, ketika itu sedang ada acara anak-anak kesukaannya, sejenak rasa jengkel dan marah akan Kegagalan liburan menghilang, ketika itu telepon berdering dan sang ayah ternyata yang menelepon, sang ayah berkata akan pulang lebih larut, belum selesai ayahnya bicara, telepon itu di tutup oleh sang anak, beberapa menit kemudian, ayahnya menelepon lagi, dan sang anak msngangkat sembari berteriak " Seandainya ayah seperti aku, ayah akan tahu rasanya, seandainya ayah sayang, ayah tidak akan seperti ini, ayah tidak sayang aku, dan aku tidak sayang ayah!". Ayahnya tersenyum berkata, " sementara ayah belum pulang, kamu bersama pengasuhmu sebentar ya nak, maaf kan ayah".. Sang anak menjawab dengan kata yang ayahnya pun tidak mengira dia akan berkata seperti itu,  anak itu berkata " seandainya aku sama ibu, aku tidak akan pernah merasa sendiri".  Dengan sedih, sang ayah meminta anaknya untuk memberikan telepon itu ke pengasuhnya, untuk berbicara pada sang pengasuh.
Setelah beberapa menit berbincang, sang pengasuh mengambil kertas dan alat tulis, dan menuliskan sesuatu yang anaknya sendiri tidak tahu.

Beberapa menit kemudian, sang pengasuh bersiap pulag, tetapi ada yang aneh, sang pengasuh mengganti pakaian sang anak, dan berkata, ayahmu ingin aku mengajakmu ke suatu tempat,, tunggulah di sana, sampai ayahmu pulang. Sejenak anak Itu berpikir dan mengangguk.

Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di suatu rumah, dan alangkah senangnya, ketika ia mendapati ibunya yang tengah membukakan pintu, namun tidak sampai sesaat pula, alangkah terkejutnya ia, mendapati seorang pria dan bayi yang sedang di gendong pria tersebut, sang ibu berkata sambil memeluk anakny, " itu ayah tirimu, aku harap kalian bisa berteman". Sembari ibunya tersenyum. Pria itu tersenyum ramah, dan baik hatinya. Namun, ada perasaan aneh di dalam hati sang anak, perasaan aneh itu datang, ketika ia melihat sang ibu menyiapkan mereka makan malam, sang ibu menggendong anak bayi itu, dan sang ibu memperhatikan dan merawat pria itu dengan baik.

Beberapa jam kemudian sang ayah datang, dan bertanya kepada sang anak,  " apa kamu sudah tidak kesepian? Ayah harap kamu senang, kalau kamu mau sementara di sini, ayah mengijinkan". Anak itu tidak berkata dan menggeleng. Setelah bertegur sapa dan berpamitan Dengan ramah, mereka kembali pulang. Tetapi sang anak tetap diam, dan sang ayah memulai pembicaraan, " bagaimana pengalamanmu, pasti seru kan dengan ibumu". Sembari ayahnya tersenyum, anak itu tetap diam dan menggeleng.

Setelah sampai di rumah, sontak sang anak menangis, dan memeluk erat sang ayah, dan berkata, " ayah, maaf kan kata-kata ku tadi, maaf kan aku yang tidak bisa menyiapkan makan malam ayah, maaf kan aku yang tidak bisa merawat ayah, sekarang aku tahu. Ayah sendiria dan aku sayang ayah".

Sang ayah tersenyum dan berkata, " sesibuk apapun ayah, ketahuailah, ayah sayang kamu  dan ayah tidak akan pernah sendiri ketika ada kamu, mulai sekarang, ayah akan berusaha untuk lebih banyak waktu untuk kamu". Dan sang anak menjawab " aku akan sediakan banyak waktu untuk ayah, dan sedikit waktu untuk marah". Mereka berdua tersenyum. 

Ketika orang tua harus lebih banyak waktu untuk anak, begitu jugalah sang anak, harus lebih mengerti kondisi keadaan orangtua. Ketika saling mengerti, ketika itu ada kasih.

No comments:

Post a Comment

crayo shinchan vol 2#1